Pernah nggak sih, lo tiba-tiba tergoda beli buku cuma karena lihat videonya di TikTok? Atau ujung-ujungnya baca novel fantasi yang bikin hati berdebar lebih dari sekedar petualangan? Gue yakin banget, beberapa dari lo pasti pernah. Soalnya sekarang, cara kita nemuin dan menikmati buku udah berubah total.
Juli 2026 ini, ada tiga fenomena besar yang lagi menguasai dunia literasi Indonesia. Bukan cuma tren sesaat, tapi ini adalah sebuah narasi besar. BookTok, Romantasy, dan ‘Let Them Theory’ Bukan Tiga Tren Terpisah—Tapi Satu Narasi Besar: Generasi 2026 Membaca untuk Melarikan Diri, Menemukan Diri, dan Membebaskan Diri.
BookTok: Dari Layar Kecil ke Dunia Nyata
Dulu, membaca itu identik dengan aktivitas sunyi dan menyendiri. Sekarang? Membaca adalah gaya hidup yang estetik dan komunal . Ini semua berkat BookTok, komunitas pembaca di TikTok yang udah punya lebih dari 200 miliar views secara global . Di Indonesia, fenomena ini bahkan udah merambah ke dunia nyata .
Komunitas BookTok rutin ngadain pertemuan kayak Silent Book Club. Anggotanya berkumpul di kafe atau taman, baca buku pilihan masing-masing dalam hening selama satu jam, terus diskusi bareng . Hasilnya? Toko buku independen dan perpustakaan kota lapor ada lonjakan kunjungan dari anak muda . Membaca kini dianggap keren, reflektif, dan jadi pelarian sehat dari hiruk-pikuk dunia digital .
Kasus Nyata: Kebangkitan Minat Baca Fisik
Dulu kita sering dengar stigma “Indonesia minat bacanya rendah” (0,001% kata UNESCO). Tapi sekarang, Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) nasional udah naik dari 66,77 di 2023 jadi 72,44 di 2024 . Bahkan, indeks kegemaran membaca di 2025 ada di angka 54,80 . Ini bukti kalau literasi lagi bangkit, dan BookTok punya peran besar di dalamnya.
Romantasy: Melarikan Diri ke Dunia yang Lebih Berwarna
Kalau lo ngerasa novel fantasi dengan bumbu romansa lagi ada di mana-mana, lo nggak salah. Genre Romantasy—gabungan romance dan fantasy—lagu booming banget di 2026 . Ini genre di mana hubungan romantis sama pentingnya dengan pembangunan dunia fantasi .
Kenapa Romantasy begitu laris? Buat Gen Z, ini adalah pelarian dari berita global yang depresif, tekanan sosial media, dan ketidakpastian ekonomi . Di dunia Romantasy, pembaca bisa tenggelam dalam dunia sihir, naga, dan peri, sambil merasakan emosi yang mendalam . Intinya, ini adalah escapism yang tetap punya kedalaman emosional.
Penulis kayak Sarah J. Maas, Rebecca Yarros, dan Jennifer L. Armentrout jadi rajanya genre ini . Buku-buku kayak Fourth Wing, A Court of Thorns and Roses, dan From Blood and Ash udah kayak franchise tersendiri dengan penggemar fanatik. Bahkan, istilah “fairy porn” muncul buat ngegambarin betapa “dewasa” dan populernya genre ini .
Kasus Nyata: Viralitas dari Self-Publish ke Bestseller
Banyak penulis Romantasy yang awalnya self-publish lalu meledak berkat BookTok. Rina Vasquez, misalnya, mulai dari nge-publish sendiri lalu karena viral di TikTok, karyanya diambil penerbit besar . Ini bukti kuasa komunitas dalam menentukan apa yang layak dibaca.
‘Let Them Theory’: Membebaskan Diri dari Beban Orang Lain
Fenomena ketiga datang dari dunia self-help. ‘Let Them Theory’ dari Mel Robbins lagi viral besar di TikTok dan Instagram—lebih dari 1 juta klip udah membahasnya . Teorinya simpel:
-
Let Them: Biarkan orang lain melakukan apa yang mau mereka lakukan. Berhenti berusaha mengontrol atau mengubah mereka .
-
Let Me: Fokus kembali pada diri sendiri dan apa yang bisa lo kontrol .
Intinya, berhenti buang energi buat hal-hal di luar kendali lo . Ini kayak “tamparan” buat generasi yang kecanduan people-pleasing dan overthinking .
Kasus Nyata: Taylor Swift dan Microsoft
Mel Robbins sendiri ngasih contoh Taylor Swift yang pake teori ini. Ketika hak atas master rekamannya dijual, dia “Let Them”—biarkan mereka punya rekaman asli. Lalu dia “Let Me”—dia rekam ulang semua albumnya, bikin tur global, dan akhirnya punya cukup modal buat beli kembali master rekamannya . CEO Microsoft Satya Nadella juga disebut-sebut menerapkan prinsip ini dengan “empathy-first culture”-nya, membiarkan kritik datang sambil fokus pada transformasi perusahaan .
Satu Narasi Besar
BookTok, Romantasy, dan ‘Let Them Theory’ sebenarnya adalah tiga sisi dari koin yang sama: Generasi 2026 membaca untuk melarikan diri, menemukan diri, dan membebaskan diri. Mereka mencari pelarian dari dunia nyata yang melelahkan (Romantasy), menemukan komunitas dan identitas (BookTok), dan belajar melepaskan beban mental yang nggak perlu (‘Let Them Theory’).
Dan yang menarik, ini semua terjadi di saat yang sama. Big Bad Wolf Medan 2026 bahkan menghadirkan 1 juta buku dengan diskon sampai 90% . Ada juga buku ‘Mode Indonesia’ yang diluncurkan akhir Juli 2026, dokumentasi pertama desainer lintas era . Dunia literasi lagi bergerak, dan kita semua bagian dari pergerakan itu.
Yang Bisa Lo Lakukan
-
Cari Komunitas Baca: Cari komunitas BookTok atau Bookstagram di kota lo. Mulai dari yang online, atau cari Silent Book Club terdekat. Bertemu langsung dengan sesama pembaca bisa bikin aktivitas baca jadi lebih seru .
-
Coba Genre Baru: Kalau lo belum pernah baca Romantasy, coba mulai dari Fourth Wing atau A Court of Thorns and Roses . Siapa tau lo menemukan genre baru yang lo suka.
-
Praktekkan ‘Let Them’: Mulai dari hal kecil. Biarkan barista ngasih kopi yang salah tanpa lo ceramahi. Biarkan pasangan lo nyuci piring dengan cara yang “nggak bener” . Latihan kecil ini bakal bantu lo ngehadapin konflik yang lebih besar dengan lebih tenang.
Kesimpulan
Jadi, BookTok, Romantasy, dan ‘Let Them Theory’ Bukan Tiga Tren Terpisah—Tapi Satu Narasi Besar: Generasi 2026 Membaca untuk Melarikan Diri, Menemukan Diri, dan Membebaskan Diri. Mereka adalah respon dari generasi yang hidup di tengah banjir informasi dan tekanan sosial. Mereka mencari pelarian yang bermakna, komunitas yang suportif, dan kebebasan dari beban yang nggak perlu.
Tren ini nggak cuma mengubah cara kita membaca, tapi juga cara kita hidup. Dan itu, menurut gue, adalah hal yang paling menarik dari Juli 2026 ini.